Sunday, July 1, 2018

Semiotika FaceBook, SANG PENCURI JIWA




Sejatinya FaceBook (FB) adalah produk teknologi moda komukasi baru, sekaligus alat yang berfungsi menjadi "organ-virtual". Artinya, ada manfaat yang dapat dipetik dari FB, seperti memudahkan penyebaran informasi, dan membongkar sekat spasio-temporal dalam komunikasi. 

Menariknya, ternyata FB pun memproduksi momen-momen eksistensial.

Pertama, "melalui" dan " di dalam" FB, seseorang dapat menemukan kebermaknaan. Hal ini tampak dari eksistensi dalam relasi status-status dan komentar. Ketika status seseorang dikomentari, ia merasa ada kepuasan, bak seseorang yang dahaga di tengah padang pasir dan menemukan oase. Ekstase yang mirip dirasakan dan mistikus yang tengah trans popular. karena itu tidak aneh status FB dijejali dengan aneka hasrat yang saling berkontestasi menemukan sublimasinya. Bahkan mungkin, ada yang menemukan "diri" nya di FB, karena dalam rimba kehidupan konkret ia mengalami keterasingan, kekalahan dalam kompetisi hidup. 

Kedua, FB dihayati bukan saja sebagai alat (ekternal), tetapi menjelma menjadi "organ-virtual". sehingga, trend yang terjadi jika seseorang tidak FB-an, seolah kehilangan "sesuatu" dari dirinya. FB telah "men-tubuh-kan" karena itu, FB sebenarnya telah memperluas makna Aku. Aku menggelembung demikian rupa memenuhi jejaring FB. 

Ketiga, FB menjadi semacam, meminjam istilah Hawking, black-hole, lubang hitam yang dengan daya gravitasinya yang maha dahsyat menyedot jiwa siapapun untuk "masuk" ke dunia-virtual FB. Karena itu, terjadi ketidak-singkronan dalam pengalaman spasialitas: dimana tubuh bisa jadi ada di ruang kelas, tetapi jiwanya menghuni "ruang-virtual" FB. FB "mencuri" jiwa dari jasadnya.

Wa Allahu a'lam

No comments:

Post a Comment